Sabtu, 28 Januari 2017

Abstrak tentang Pengaruh Progam Latihan Variasi Passing Pendek Milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera Terhadap Kemampuan Teknik Dasar Passing Sepak bola

ABSTRAK

Arifin, M. 2016. Pengaruh Progam Latihan Variasi Passing Pendek Milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera  Terhadap Kemampuan Teknik Dasar Passing Sepak bola Anak Latih Usia 9-11 Tahun Di SSB Bina Remaja, Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Setyo Budiwanto, M. Kes (II) Drs. Supriatna, M. Pd

Kata Kunci : Progam Latihan Variasi Passing Pendek, Timo Scheunemann dan Ganesha Putera, Kemampuan Teknik Dasar Passing Sepak bola Anak Latih Usia 9-11 Tahun Di SSB Bina Remaja, Blitar

            Passing merupakan teknik dasar sepak bola yang sangat penting dan wajib dikuasai dengan baik oleh setiap pemain sepak bola. Passing yang benar yaitu bola tepat pada teman yang dituju, tidak terlau keras, dan tidak terlalu pelan. Namun hasil dari observasi yaitu banyak anak latih yang salah dalam melakukan passing. Selain itu ditemukan juga bahwa model-model latihan yang dilakukan masih kurang bervariasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh progam latihan variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera  terhadap kemampuan teknik dasar passing sepak bola anak latih usia 9-11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar.

            Penelitian ini menggunakan metode penelitan ekspeimental. Penelitian ini dilakukan di SSB Bina Remaja, Gogodeso, Kabupaten Blitar. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 anak latih usia 9-11 tahun. Karena hanya 30 anak latih, maka semua anak latih dijadikan kelompok eksperimen. Instrumen penelitian menggunakan tes passing pendek Mitchel Soccer Test. Penelitian ini menggunakan analisis uji-t amatan ulangan yang digunakan untuk menguji perbedaan mean hasil tes awal dengan tes akhir yang diolah dengan  aplikasi SPSS 17.0.

            Dari hasil peneltian diperoleh hasil uji-t amatan ulangan yang diolah menggunakan SPSS 17.0, dengan hasil dari t hitung = 4,097 > t tabel = 2,72. Dengan taraf signifikan pada tabel tersebut yaitu ρ = 0,000 < α = 0,05. Selain itu dari hasil perbandingan antara mean tes awal dan mean tes akhir, diperoleh selisih sebesar 3,433, sehingga progam latihan tersebut dapat meningkatkan keterampilan passing pendek sebesar 9,98% selama 24 kali pertemuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh progam latihan variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera  terhadap kemampuan tehnik dasar passing sepak bola anak latih usia 9-11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar.

            Saran dari penulis yaitu walaupun penelitian ini sudah signifikan, yaitu mampu meningkatkan kemampuan teknik dasar passing pada anak latih usia 9-11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar, tetapi penelitian ini masih bersifat penelitian pra-eksperimental (pre-experimental), karena tidak adanya kelompok kontrol. Sehingga untuk penelitian selanjutnya, agar menambahkan kelompok kontrol agar dapat menjadi penelitian eksperimental sungguhan (true experimenal).

ABSTRACT

Arifin, M. 2016. The Effect of Training Program Short Passing Variation  by Timo Scheunemann and Ganesha Putera on Football Passing Basic Technique Skill of Children Age 9-11 Years In SSB Bina Remaja, Blitar. Thesis, Sports Coaching Education, The Department of Sport Coaching Education, Faculty of Sport Science, State University of Malang. Supervisor: (I) Drs. Setyo Budiwanto, M. Kes (II) Drs. Supriatna, M. Pd

Keywords: Training program short passing variation, Timo scheunemann and Ganesha putera, Football passing basic technique skill of children age 9-11 years in SSB Bina Remaja, Blitar.

Passing is the important basic technique in football. It must be mastered well by the football player. The good passing is the ball rolls on the right target of friend, not too fast and not too slow. However, from the observation it was found that many children still do wrong in passing. Moreover, it was found that models of training are less varied. The purpose of this study is to determine the effect of training program short passing variation by Timo Scheunemann and Ganesha Putera on football passing basic technique skill of children age 9-11 years in SSB Bina Remaja, Blitar.

This study used experimental research design. It was conducted in SSB Bina Remaja, Gogodeso, Blitar. The samples were 30 children age 9-11 years of Training program. Because there were only 30 children, all children were used as the experimental group. The research instrument used short passing tests, Mitchel Soccer Test. This study used t-test observation reply to examine the differences of mean between pre-test and the post-test results. It was analyzed by using SPSS 17.0 application.

From the research finding, it obtained t-test observation reply that processed by using SPSS 17.0, the result of t = 4.097> t table = 2.72 with the significant level in the table that is ρ = 0,000 <α = 0.05. In addition, from the comparison between the mean of pre-test and the mean of post-test, it obtained the difference of 3.433, so that the training program may improve short passing skills of 9.98% for 24 meetings. It can be concluded that there is effect of training program short passing variation by Timo Scheunemann and Ganesha Putera on football passing basic technique skill of children age 9-11 years in SSB Bina Remaja, Blitar


The suggestion from the researcher is that even though this research has already significant, that is able to improve passing basic technique skill of children age 9-11 years in SSB Bina Remaja, Blitar. Yet, this research was still pre-experimental study because there was no control group. So, for the further study, it expects to add a control group in order to become a real research (true experimenal).

PENGARUH PROGAM LATIHAN VARIASI PASSING PENDEK DARI TIMO SCHEUNEMANN DAN GANESHA PUTERA TERHADAP KETERAMPILAN TEHNIK DASAR PASSING SEPAKBOLA ANAK LATIH USIA 9-11 TAHUN DI SSB “BINA REMAJA”, BLITAR

Latar Belakang Masalah
Sepak bola adalah suatu permainan yang dilakukan dengan jalan menyepak bola kian-kemari untuk diperebutkan di antara pemain-pemain, yang mempunyai tujuan untuk memasukkan bola ke gawang lawan dan juga berusaha mempertahankan gawang sendiri agar tidak kemasukkan bola (Nuh, 2013:7). Olahraga ini sudah memasyarakat di kalangan bawah hingga kalangan atas. Menurut Luxbacher (2004:5), lebih dari 200 juta orang di seluruh kawasan dunia memainkan permainan sepak bola.
Untuk mencapai prestasi dalam dunia olahraga perlu adanya latihan yang terstruktur dan teratur. Harsono (1988:100) mengatakan bahwa ada 4 aspek latihan yang perlu diperhatikan dan dilatih secara seksama yaitu latihan fisik, teknik, taktik, dan mental. Kondisi fisik merupakan unsur yang sangat penting hampir diseluruh cabang olahraga. Sama halnya dengan olahraga yang lain, sepak bola juga memerlukan 4 aspek latihan tersebut. Pada olahraga sepak bola keterampilan fisik dan teknik harus diajarkan atau dilatih sejak pemula, agar anak latih bisa bermain secara maksimal pada saat pertandingan.
Menurut Yunus (2013:16) teknik sepak bola adalah semua gerakan gerakan dengan atau tanpa bola yang diperlukan dalam permainan sepak bola. Salah satu teknik dasar yang harus dimiliki oleh pemain sepak bola adalah teknik
dasar passing (operan). Memiliki passing yang akurat adalah harga mati bagi seorang pemain sepak bola (Scheunemann, 2012:179). Passing menurut Mielke (2007:19) adalah seni memindahkan momentum bola dari satu pemain ke pemain lain. Ada beberapa jenis passing dalam sepak bola, salah satunya adalah short pass (operan jarak pendek). Passing pendek yang baik dan efektif dilakukan menggunakan kaki bagian dalam. Karena pada kaki bagian dalam terdapat permukaan yang lebih luas bagi pemain untuk menendang bola, sehingga memberikan kontrol bola yang lebih baik (Mielke, 2007:20). Dalam permainan sepak bola, tim yang efektif adalah tim yang menggunakan ruang daerah dengan sebaik-baiknya dengan cara mengoper bola kepada pemain yang tidak dijaga (Nugraha, 2013:72). Menurut Mielke (2007:20) passing yang baik yaitu:
Usahakan agar setepat mungkin mengarahkan bola ke teman satu tim. Teman satu tim adalah sasaran ketika memulai passing. Jangan menendang terlalu keras jika tidak ingin bola melampainya. Jangan menendang terlalu pelan jika tidak ingin bolanya tidak sampai pada teman yang dituju.

Namun dalam pengamatan yang dilakukan di SSB (Sekolah Sepak bola) Bina Remaja, Gogodeso, Kabupaten Blitar banyak anak latihnya salah dalam melakukan passing. Mulai dari KU-9, KU-10, dan KU-11 banyak sekali yang masih banyak melakukan kesalahan passing. Kesalahan yang sering dilakukan yaitu passing tidak tepat pada teman yang dituju, bola terlalu keras sehingga teman yang menerimanya mengalami kesulitan dalam melakukan kontrol, bola terlalu pelan sehingga passing tidak sampai pada teman, dan putaran bola tidak stabil. Kesalahan-kesalahan tersebut terjadi karena teknik passing yang dilakukan salah. Teknik melakukan passing yang benar menurut Mielke (2007:20-21) yaitu 1) posisikan tubuh agar sebidang dengan arah passing yang akan dituju, 2) tarik kaki yang akan mendang kebelakang, 3) sentuh bola dengan menggunakan kaki bagian dalam dengan kekuatan seperlunya, tidak terlalu pelan namun juga tidak terlalu keras. Hasil pengamatan tersebut juga sesuai dengan pernyataan dari Putera (2010:18) bahwa:
Tidak heran bila ada pemain timnas PSSI sekarang yang sering tidak mampu melakukan crossing saat berlari kencang atau tidak bergerak setelah melakukan passing. Kesalahan semacam ini tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya merupakan kebiasaan lama yang dibawa sejak usia muda. Mungkin saja pemain tersebut pada saat muda tidak pernah mengalami latihan koordinasi dan juga tidak diajarkan konsep passing and support.

Selain itu dari pemangamatan yang dilakukan, model-model latihan yang dilakukan masih kurang bervariasi. Salah satu model latihan yang sering dilatih yaitu dua anak dengan satu bola, kemudian saling melakukan passing. Ini juga sesuai dengan pernyataan dari Putera (2010:16) bahwa di tengah membanjirnya SSB di Indonesia, tidak banyak SSB yang dapat menyediakan latihan usia muda berkualitas. Tingginya angka siswa yang meninggalkan SSB di usia 13 sampai 14 tahun, merupakan indikasi bahwa tidak banyak SSB yang sanggup menyajikan latihan berkualitas. Latihan yang berkualitas adalah latihan yang sesuai dengan prinsip-prinsip latihan, dan latihan yang bervariasi adalah salah satu prinsip dalam latihan. Selain itu menurut Harsono (2004:11) untuk mencegah kebosanan berlatih, pelatih harus kreatif dan pandai menerapkan variasi-variasi dalam latihan. Sehingga salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan membuat beberapa variasi latihan passing pendek, agar anak latih tidak bosan dengan materi latihan yang biasanya dilakukan. Untuk menciptakan variasi dalam latihan menurut Winarko (2011:42-43) dapat berupa tempat latihan yang diganti-ganti, metodenya yang divariasi, dan sasaran latihannya.
Selain menggunakan variasi yang banyak dalam latihan, dalam menyusun rancangan progam latihan, seorang pelatih juga harus memperhatikan karakteristik
anak. Sehingga latihan yang dibuat pelatih akan sesuai dan tidak akan menghambat masa pertumbuhan anak dan juga tidak akan mengakibatkan cidera. Karena anak latih usia dini belum memiliki struktur tulang yang kuat, sehingga sangat rentan mengalami cidera, jika latihannya terlalu berat. Menurut Scheunemann (2012:61) menjelaskan tentang karakteristik anak usia 9 tahun sampai 12 tahun, yaitu sebagai berikut:
(1) Pemain di masa pra pubertas dari 9 tahun sampai 12 tahun memiliki keterampilan khusus untuk belajar. Maka, inilah usia yang tepat untuk teknik dan keterampilan khusus sepak bola. Membangun teknik dasar yang bagus sangat penting pada tingkat usia ini. (2) Membuat situasi 1 lawan 1 dan 2 lawan 2 dalam menyerang dan bertahan sangat penting untuk membangun keterampilan individu, termasuk teknik passing untuk membangun keterampilan bermain sebagai tim. (3) Gunakan permainan lapangan kecil untuk meningkatkan pengertian dasar menyerang dan bertahan. Hal penting lainnya dalam pelatihan taktik adalah penguasaan bola, kombinasi permainan, perpindahan (transisi) dan penyelesaian akhir. Pemain harus dirotasi dalam 2 atau 3 posisi yang berbeda untuk menghindari spesialisasi yang terlalu dini. (4) Kecepatan, koordinasi, keseimbangan, dan kelincahan adalah hal-hal yang paling penting dalam aspek fisik pemain untuk ditingkatkan di usia ini.

Sesuai dengan karakteristik anak menurut Scheunemann tersebut maka peneliti memilih beberapa variasi latihan passing pendek dari Timo Scheunemann dan Ganesha Putera. Karena dalam latihan-latihan tersebut terdapat unsur-unsur yang telah dijelaskan oleh Scheunemann yaitu: situasi 1 lawan 1 dan 2 lawan 2 dalam menyerang dan bertahan, permainan lapangan kecil untuk meningkatkan pengertian dasar menyerang dan bertahan, dan rotasi dalam 2 atau 3 posisi yang berbeda untuk menghindari spesialisasi yang terlalu dini. Selain itu dalam latihan tersebut juga terdapat unsur game. Ini seperti pendapat Putera (2010:27) bahwa, dalam pembinaan usia muda , game merupakan sesuatu elemen yang tidak dapat dipisahkan. Baik game dalam latihan, maupun game dalam pertandingan. Kemudian untuk lebih memperkuat pernyataannya tersebut Putera (2010:39) juga menambahkan bahwa fokus utama latihan pemain sepak bola usia dini adalah bagaimana pemain dapat mencintai sepak bola, mengenal teknik dasar sepak bola, dan memperkaya khasanah gerak.

PEMBAHASAN

A.      Tujuan Latihan dengan Hasil Penelitian
Tujuan latihan yang ada penelitian ini yaitu sebagai berikut: (a) dapat meningkatkan kemampuan teknik dasar passing pendek sepak bola anak latih usia 9 tahun sampai 11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar. (b) memperkenalkan variasi-variasi latihan passing pendek  milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putra kepada anak latin usia 9 tahun sampai 11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar. (c) memberikan edukasi kepada SSB, pelatih, dan anak latih bahwa untuk melatih teknik dasar passing pendek tidak hanya dengan latihan 2 pemain berpasangan saja tetapi ada banyak variasi yang bisa dilakukan. Dengan berbagai variasi tersebut juga diharapkan anak latih tidak bosan dalam melakukan latihan passing pendek.
Dengan tujuan latihan tersebut maka dilakukan perlakukan berupa latihan dengan progam latihan yang didalamnya terdapat berbagai macam variasi latihan passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putra yang sesuai dengan karakteristik anak usia 9 tahun sampai 11 tahun. Variasi-variasi latihan tersebut yaitu sebagai berikut: (a) passing 2 pemain (Scheunemann, 2012:180), (b) passing 2 lawan 1 (Scheunemann, 2012:180), (c) passing 3 lawan 1 (Scheunemann, 2012:181), (d) passing and run (Scheunemann, 2012:182), (e) passing dengan membentuk segitiga (Scheunemann, 2012:181), (f) passing membentuk segi empat (Scheunemann, 2012:181), (g) latihan passing hantam cone (Putera, 2010:53), (h) latihan passing 3 lawan 3 ambil gawang (Putera, 2010:53), (i) latihan passing dengan permainan hantam kaki (Putera, 2010:55), (j) latihan passing dengan pemainan passing pintu ke pintu (Putera, 2010:55), (k) latihan 4 lawan 4, 6 gawang kecil (Putera, 2010:77), (l) game dengan 3 tim (Scheunemann, 2012:183), (m) latihan 2 lawan 2 plus 4 netral (Putera, 2010:79), (n) possession game (Scheunemann, 2012:182), (o) possession game with besideline (Scheunemann, 2012:182). Variasi latihan short pass (passing pendek) dalam sepak bola dari Timo Scheunemann dan Ganesha Putra tersebut sudah disusun mulai dari latihan yang sederhana menuju latihan yang lebih komplek. Selain itu dalam latihan-latihan tersebut dipilih karena sudah ada berbagai unsur latihan yang baik dan sesuai untuk anak usia 9 tahun sampai 11 tahun, seperti situasi 1 lawan 1 dan 2 lawan 2 dalam menyerang dan bertahan, permainan lapangan kecil untuk meningkatkan pengertian dasar menyerang dan bertahan, rotasi dalam 2 atau 3 posisi yang berbeda untuk menghindari spesialisasi yang terlalu dini dan yang terpenting juga terdapat unsur game (permainan).
Dari perlakuan yang dilakukan selama 24 kali pertemuan menggunakan variasi-variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putra untuk anak latih usia 9 tahun sampai 11 tahun yang telah disajikan kedalam progam latihan yang dibuat oleh peneliti mendapat hasil yang signifikan antara hasil data tes awal (pretest) dengan tes akhir (post-test). Sehingga dapat disimpulkan hipotesis nihil (Ho) yang mengatakan tidak ada pengaruh progam latihan variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera  terhadap kemampuan teknik dasar passing sepak bola anak latih usia 9-11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar ditolak dan hipotesis penelitian (Ha) yang mengatakan ada pengaruh progam latihan variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan
Ganesha Putera  terhadap kemampuan teknik dasar passing sepak bola anak latih
usia 9-11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar diterima.
B.       Hasil Penelitian dengan Teori Kajian Pustaka
Dengan hasil yang menunjukkan bahwa variasi-variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putra untuk anak latih usia 9 tahun sampai 11 tahun yang telah disajikan kedalam progam latihan yang dibuat oleh peneliti mendapat hasil yang signifikan antara hasil data tes awal (pretest) dengan tes akhir (post-test). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh progam latihan variasi passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera terhadap kemampuan teknik dasar passing sepak bola anak latih usia 9-11 tahun di SSB Bina Remaja, Blitar. Dengan demikian progam latihan yang dibuat oleh peneliti dengan memasukkan variasi-variasi latihan passing pendek milik Timo Scheunemann dan Ganesha Putera dapat digunakan untuk meningkatkan kemapuan teknik dasar passing pendek sepakbola anak latih usia 9 tahun sampai 11 tahun.
Dalam progam latihan yang dibuat oleh peneliti mengacu kepada prinsip-prinsip latihan dan metode-metode latihan. Ini seperti pendapatnya Harsono (2004:6) bahwa dalam perencanaan progam latihan harus mengacu kepada hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan metodologi pelatihan yang benar. Progam latihan ini juga mengacu pada prinsip-prinsip latihan sesuai yang dikemukakan Harsono (2004:9-12) yaitu: prinsip beban berlebih (overload), individualisasi, densitas latihan, prinsip kembali asal (reversiility), spesifikasi, perkembangan multilateral, prinsip pulih asal (recovery), variasi latihan, intensitas latihan, azas over kompensasi, dan IPTEK. Selain itu progam latihan ini disusun secara sistematis dan ditulis agar progam latihan tersebut dapat diarsipkan. Dalam pembuatan progam latihan ini, peneliti mengacu pada saran dari Scheunemann (2012:57) yaitu sebagai berikut:
(1) tertulis supaya terencana dan bisa terarsipkan. (2) prinsip benang merah: dari awal sampai akhir latihan bagian-bagian latihan terlihat selaras serasi dan saling berhubungan sesuai dengan tema latihan. Tema latihan harus terlihat jelas dari awal sampai akhir. (3) pakai bola! pakai bola! pakai bola! (4) hindari antrean! modifikasi latihan sehingga antrean tidak terjadi. Contohnya: sebagian shooting kedua gawang, sebagian body fitness lalu bergantian. (5) intensitas latihan harus dari santai ke berat. (6) tingkat kesulitan latihan dari gampang ke sulit, dari yang sudah dikenal ke latihan yang belum dikenal. (7) pastikan adanya tekanan (untuk melatih mental) dalam bentuk perlombaan/hadiah/hukuman/tekanan waktu. (8) pastikan progam latihan sesuai metode pembuatan progam latihan (tidak asal bikin progam) mulai dari warm up (10’-15’) sampai cooling down (5’-10’). (9) choaching point (CP) sebaiknya 3-5 saja agar mudah diserap dan diingat pemain. Tuliskan CP dibagian-bagian latihan untuk mengingatkan pelatih saat latihan. (10) tentukan dan tuliskan berapa menit untuk setiap bagian latihan. (11) perhatikan progam latihan yang sudah dibuat. Tanyakan pada diri sendiri; sudah cukup variatifkan (tidak monoton) latihan ini? Bagaimana dengan fun aspect atau faktor kesenangan? Apakah pemain akan senang dan bergairah mengikuti progam latihan yang sudah dibuat? (12) pastikan variasi-variasi yang dipilih efektif, gampang dimengerti dan tidak mengakibatkan antrean.

Dalam progam latihan tersebut, peneliti menggunakan variasi-variasi latihan passing pendek dari Timo Scheunemann dan Ganesha Putra. Untuk latihan dari Timo Scheunemann peneliti memilih beberapa latihan dari latihan yang sederhna menuju ke latihan yang lebih komplek. Latihan-latihan tersebut yaitu passing 2 pemain, passing 2 lawan 1, passing 3 lawan 1, passing and run, passing dengan membentuk segitiga, passing membentuk segi empat, possession game, dan possession game with besideline. Bentuk-bentuk latihan tersebut sesuai dengan pernyataan Scheunemann (2012:61) bahwa membuat situasi 1 lawan 1 dan 2 lawan 2 dalam penyerangan dan petahanan sangat penting untuk membangun kemampuan individu.
Dalam latihan-latihan tersebut juga ada beberapa latihan yang sudah menyerupai seperti permainan sesunggunya. Seperti pernyataan Scheunemann (2012:60) bahwa pada tingkat usia 9-12 tahun, susunan pelatihan sudah mirip dengan pemain yang lebih tua. Kemudian Scheunemann (2012:60) juga menambahkan bahwa bagian terpenting dalam latihan adalah yang bersifat teknis. Dalam progam latihan milik Scheunemann yang dimasukan kedalam progam latihan yang dibuat oleh peneliti ada juga yang memiliki unsur taktik dasar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Scheunemann (2012:60) bahwa kemampuan anak-anak untuk mengatasi masalah akan berkembang dengan pesat, maka pemain harus mulai diajakan taktik dasar yang dinamis. Kemudian untuk latihan-latihan dari Ganesha Putra yang dimasukkan kedalam progam latihan yang dibuat oleh peneliti yaitu sebagai berikut: latihan passing hantam cone, latihan passing 3 lawan 3 ambil gawang, latihan passing dengan permainan hantam kaki, latihan passing dengan pemainan passing pintu ke pintu, 4 lawan 4, 6 gawang kecil, game dengan 3 tim, dan 2 lawan 2 plus 4 netral. Dalam latihan-latihan tersebut banyak latihan yang bersifat permainan. Peneliti memilih model-model latihan yang bersifat permainan karena sesuai dengan pernyataan Putera (2010:27) bahwa, dalam pembinaan usia muda , game merupakan sesuatu elemen yang tidak dapat dipisahkan. Baik game dalam latihan, maupun game dalam pertandingan. Putera (2010:39) juga menambahkan bahwa fokus utama latihan pemain sepak bola usia dini adalah bagaimana pemain dapat mencintai sepak bola, mengenal teknik dasar sepak bola, dan memperkaya khasanah gerak. Selain bersifat permainan, latihan-latihan tersebut juga ada yang mengharuskan pemain belajar untuk taktik bertahan dan menyerang secara individu maupun kelompok. Sesuai dengan pernyataan Scheunemann (2012:61) yaitu gunakan permainan lapangan kecil untuk mengkatkan pengertian dasar menyerang dan bertahan. Dalam latihan-latihan ini juga ada beberapa latihan yang bermain secara berkelompok, dan mengharuskan pemain untuk aktif berotasi atau berpindah posisi. Hal ini sesuai dengan karakeristik anak usia 9-12 tahun yang dikemukakan oleh Scheunemann (2012:61) yaitu pemain harus dirotasi dalam 2 atau 3 posisi yang berbeda untuk menghindari spesialisasi yang telalu dini.

Minggu, 31 Agustus 2014

CONTOH CARA MENGHITUNG DENYUT NADI

Denyut Nadi
a.       Menghitung denyut nadi maksimal
MHR   = 220 – Umur
= 220 – 19
= 201 denyut per nadi

b.      Jika intensitas latihan yang saya dapatkan adalah 60% maka denyut jantung latihan saya adalah “intensitas latihan x hasil MHR”       
= 60% x 201
= 60/100 x 201 = 120,6 denyut per menit

c.       Heart Rate Reserve     = Max Heart Rate – RHR
                                    = 220 - 19 - 74           
                                    = 127 denyut per menit

d.      Heart Rate Threshold  = HRR + % (MHR - HRR)
= 74 + 60% (201 - 74)
= 74 + 76,2
= 150,2 denyut per menit



ARTIKEL TENTANG KECEMASAN PADA ATLIT AMATIR


“Kecemasan Dalam Olahraga Prestasi Atlit Amatir Di Daerah-Daerah”
Abstrak: olahraga merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan manusia. Selain bisa untuk prestasi, olahraga juga bermaat untuk kesehatan. Dalam dunia olahraga prestasi ada banyak sekali factor yang mendukungnya, yaitu antara lain fisik, tehnik, taktik, dan mental. Fisik berhubungan dengan keadaan fisiologis seorang atlit. Tehnik, kemampuan seorang atlit dalam melakukan olahraga. Taktik, kemampuan atlit dalam membaca suasana pertandingan. Dan yang terakhir mental, yaitu kemampuan kondisi psikogi atlit dalam menghadapi pertandingan. Ada banyak yang mempengaruhi mental, dan salah satunya yaitu factor kecemasan atlit. Saat atlit melakukan pertandingan, pada atlit yang sudah prefesional tingkat kecemasan itu sangat rendah, namun jika pada atlit yang masih amatir, tingkat kecemasan sangat tinggi. Sehingga atlit tersebut bisa mengalami stress yang bisa menyebabkan atlit tidak konsen dalam pertandingan.
Kata Kunci: olahraga, atlit, kecemasan
PENDAHULUAN
Olahraga adalah salah satu kegiatan yang paling sring dilakukan manusia. Olahraga terbagi dalam beberapa jenis, yaitu olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga pendidikan. Dalam olahraga prestasi ada dua jenis yaitu olahraga yang menggunakan banyak oksigen dan olahraga dengan sedikit oksigen. Untuk menunjang prestasi para atlit amatir ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu fisik, tehnik, taktik, dan mental.
Dalam mental atlit ada beberapa factor yaitu motivasi, percaya diri, kecemasan, dan lain-lain. Kecemasan terdiri dari komponen mental (kognitif) dan fisiologis (somatik)
komponen
(Bridges dan Knight, 2005). Kecemasan kognitif adalah mental komponen kecemasan, di mana seseorang mengalami kekhawatiran, keraguan, tak terduga mengancam, pikiran negatif, takut gagal, hilangnya kepercayaan diri dan konsentrasi. Kecemasan Somatik mengacu pada perubahan seseorang dirasakan dalam dirinya atau fisiologis nya, seperti detak jantung meningkat, darah tekanan dan ketegangan otot (Vincent dan Yahya, 2012).
Pada atlit amatir didaerah-daerah banyak yang sering mengalami kecemasan saat akan melakukan pertandingan. Ini dikarenakan pelatih tidak tahu tanda-tanda dari atlit yang cemas dengan situasi pertandingan. Selain itu atlit juga tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, dan juga atlit takut dengan situasi pertandingan, takut terhadap lawan, dan takut dengan keramaian penonton.
Untuk mengatasi kecemasan tersebut ada beberapa cara yaitu dengan self-talk, visualisasi, dan pelatih memberikan motivasi kepada atlit tersebut. Selain itu juga dengan tidak memberikan target yang terlalu tinggi terhadap atlit. Dengan target yang tinggi, bisa menimbulkan atlit down sebelum pertandingan, dan atlit akan mengalami beban secara mental.

PEMBAHASAN
Dalam arti luas olahraga adalah suatu kegiatan dimana semua anggota tubuh bergerak. Dalam perkembangannya, olahraga dibagi menjadi olahrag prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga pendidikan. Dalam olahraga prestasi, dibagi lagi menjadi dua yaitu olahraga yang menggunakan oksigen dan olahraga dengan tidak sepenuhnya menggunakan oksigen atau hanya sedikit menghirup oksigen. Olahraga yang menggunakan oksigen antara lain lari maraton, bersepeda, dan masih banyak lagi. Sedangkan olahraga yang menggunakan sedikit oksigen antara lain lari cepat, sepakbola, renang, dan lain-lain.
Dalam olahraga presatsi ada empat factor yang paling berpengaruh, yaitu fisik, tehnik, taktik, dan mental. Fisik berpengaruh karena untuk menunjang sebuah prestasi dalam dunia olahraga idealnya mempunyai fisik yang atletis. Namun pada era perkembangan jaman saat ini, bukan hanya atlit yang mempunyai fisik bagus saja yang bisa berprestasi, namun juga ada beberapa atlit yang mempunyai fisik dibawah ideal yang mampu bersprestasi. Contohnya dalam cabang olahraga sepakbola ada Lionel Messi, Aaroon Lennon, Andik Firmansyah, dan masih banyak lagi. Dari beberapa atlit tersebut, walaupun mereka mempunyai fisik yang relative dibawah namun mereka mempunya keistimewaan dalam hal yang lain, misalnya Messi (Pangilan dari Lionel Messi), dia mempunyai kemampuan dalam mengolah bola yang sangat baik, bahkan Messi mampu menjadi pemain terbaik Eropa tiga kali berturut-turut, yakni pada tahun 202009, 2010, dan 2011. Sedangkan Andik Firmansyah, berlari sekaligur melakukan dribbling (menggiring bola) dengan cepat. Dan mampu membawa TIMNAS Indonesia U-21 menjadi Runner-up Sea Games di Jakarta pada tahun 2012 lalu.
Setelah fisik, factor yang kedua yaitu tehnik. Tehnik dibutuhkan karena jika seorang atlit olahraga tidak punya tehnik yang bagus dan hanya mengandalkan fisiknya saja, maka atlit tersebut tidak akan bisa berprestasi. Contohnya, jika seorang atlit lompat tinggi hanya mengandalkan fisiknya yang tinggi dan tidak punya tehnik dalam melompat yang bagus maka dia tidak akan bisa memperoleh prestasi yang maksimal. Atlit tersebut akan kalah dengan atlit yang mempunyai fisik biasa namun mempunyai tehnik bagus. Maka dari itu tahnik juga sangat penting untuk menunjang prestasi seorang atlit olahraga. Begitu juga dicabang olahraga sepakbola. Walaupun seorang atlit sepakbola mempunyai fisik yang atletis, namun tidak ditunjang dengan kemampuan tehnik mengolah bola yang baik, maka atlit tersebut tidak akan bisa berkembang dengan baik.
Kemudian factor yang ketiga yaitu taktik. Taktik sangat diperlukan saat seorang atlit akan melakukan pertandingan. Seorang atlit selain mampu membaca situasi pertandingan dia juga harus bisa membuat taktik bagaimana bisa memenangkan pertandingan. Namun pada kebanyakan olahraga prestasi, taktik lebih banyak diperoleh dari pelatih, karena kemampuan seorang pelatih dalam menentukan taktik pada dasarnya lebih baik dari pada atlit. Faktor yang terakhir yaitu mental. Dalam dunia psikologi olahraga ada banyak sekali factor yang bisa mempengaruhi mental atlit. Antar lain percaya diri, motivasi, kecemasan, dan lain-lain.
Untuk mempelajari mental seorang atlit takni dengan ilmu psikologi olahraga. Ilmu ini muncul sejak 1897 oleh Morman Triplet. Ilmu ini mulai popular sejak tahun 1960-an, karena psikologi menjadi kebutuhan untuk meraih prestasi dalam olahraga. Dalam ilmu psikologi olahraga dibagi menjadi 2 yaitu ilmu murni dan ilmu terapan.
Kecemasan adalah salah satu factor yang bisa mempengaruhi prestasi atlit. Kecemasan ini muncil saat seorang atlit akan melakukan pertandingan. Pada atlit yang sudah professional kecemasan sangat rendah, namun pada atlit yang masih amatir kecemasan sering muncul dan mampu menggoyahkan konsentrasi atlit.
Kecemasan terdiri dari komponen mental (kognitif) dan fisiologis (somatik)
komponen
(Bridges dan Knight, 2005). Kecemasan kognitif adalah mental komponen kecemasan, di mana seseorang mengalami kekhawatiran, keraguan, tak terduga mengancam, pikiran negatif, takut gagal, hilangnya kepercayaan diri dan konsentrasi. Kecemasan Somatik mengacu pada perubahan seseorang dirasakan dalam dirinya atau fisiologis nya, seperti detak jantung meningkat, darah tekanan dan ketegangan otot (Vincent dan Yahya, 2012).
 Ada beberapa metode untuk mengukur tingkat kecemasan seorang atlit, yaitu kuisioner data diri. Pada metode ini atlit diberikan beberapa lembar kertas yang didalamnya berisikan pertanyaan-pertanyaan tentang data diri atlit. Selain data diri, juga ada pertanyaan tentang permainan atlit tersebut. Ukuran yang paling sering digunakan kecemasan sifat adalah Skala Sport Anxiety (SAS). Kemudian selain dengan kuisioner, ada drive theory (teori pemandu) dan teoti U terbalik.
Untuk mempelajari kecemasan pada atlit ada beberapa model dan teori yang telah didapat oleh para psikolog, yaitu teori multidimensional, model bencana, teori pembalikan, dan zona dengan berfungsi optimal modelkan (Woodman dan Hardy, 2003).   Kemudian Dua teori terbaru menawarkan kerangka melalui yang mana satu pemahaman lebih baik dari hubungan anxiety–performance mungkin diperoleh; proses sadar hipotesis (CPH) dan teori efisiensi proses (Wilson, Smith dan Holmes, 2007 ).
Kecemasan bisa sangat berpengaruh pada atlit-atlit amatir, khususnya atlit-atlit di tingkat daerah. Keadaan ini terjadi karena para pelatih ditingkat daerah masih banyak yang tidak melatih mentalnya. Kebanyakan para pelatih hanya melatih fisik, tehnik, dan taktik. Sehingga melupakan mental. Padahal mental sangat berpengaruh bagi atlit untul mencapai puncak prestasinya. Namun selain dari factor pelatih, kecemasan pada atlit amatir sering muncul karena beberapa factor antara lain atlit merasa takut dengan lawan yang memiliki fisik yang lebih besar, nama besar dan tehnik yang lebih baik. Kemudian kecemasan itu muncul karena adanya target yang terlalu tinggi dari pelatih atau official tim. Sedangkan atlit baru saja melakukan latihan dan masih belum mempunyai jam terbang yang banyak.
Atlit yang pertama kali melakukan pertandingan resmi biasanya akan mengalami kecemasan berupa, tidak bisa tidur pada malam hari sebelum pertandingan dimulai, merasa ingin BAB (buang air besar) atau BAK (buang air kecil), telapak tangan mengeluarkan banyak keringat, gugup, dan yang paling buruk wajah dari atlit tersebut akan berubah menjadi putih pucat. Dalam keadaan seperti ini seharusnya seorang pelatih bisa membaca keadaan atlitnya, dan menenangknnya dengan cara menyuruh atlit untuk melakukan pemanasan berulang-ulang, atau dengan mengajak atlit untuk berdiam diri dan memvisualisasikan pertandingan. Memvisualisasikan ruang hijau memiliki dampak positif pada kesehatan mental (Vincent dan Yahaya, 2012).  Bervisualisasi adalah salah satu dari metode Cooping. Coping telah didefinisikan oleh Lazarus dan Folkman (1984) sebagai  terus-menerus mengubah upaya kognitif dan perilaku untuk mengelola tuntutan eksternal dan / atau internal yang spesifik yang dinilai sebagai mengambil atau melebihi sumber daya dari orang. Salah satu strategi coping yang banyak digunakan adalah citra. Menurut Moran (1993) , citra tidak hanya berfokus pada indra visual tetapi dapat mencakup lainnya indra juga. Vealey dan Greanleaf (2001) mendefinisikan Citra sebagai menggunakan semua indera untuk menciptakan kembali atau menciptakan sebuah pengalaman dalam pikiran.
Jadi, untuk dapat membantu atlit amatir dalam mengatasi kecemasan saat akan melakukan pertandingan adalah dengan metode visualisasi atau membayangkan pertandingan dan berpikiran positif terhadap pertandingan. Dengan membayangkan pertandingan dan berfikiran positif atlit akan meras lebih nyaman dalam bertanding, sehingga atlit mampu bermain baik dan mendapatkan hasil yang maksimal. Selain visualisasi ada juga metode yang baik digunakan untuk mengurangi kecemasan yaitu dengan self-talk (berbicara kepada diri sendiri). Self-talk digunakan untuk member semangat kepada diri sendiri, agar mampu mengontrol emosi didalam diri.

KESIMPULAN
Kecemasan terdiri dari dua yaitu kecemasan kognitif dan kecemasan somatic. Kecemasan kognitif adalah mental komponen kecemasan, di mana seseorang mengalami kekhawatiran, keraguan, tak terduga mengancam, pikiran negatif, takut gagal, hilangnya kepercayaan diri dan konsentrasi. Kecemasan Somatik mengacu pada perubahan seseorang dirasakan dalam dirinya atau fisiologis nya, seperti detak jantung meningkat, darah tekanan dan ketegangan otot.
Atlit amatir tingkat daerah sering mengalami kecemasan karena tekanan dari penonton, tehnik yang kurang, takut dengan lawan yang lebih baik, target dari pelatih yang tinggi. Untuk ngurangi kecemasan bisa dengan self-talk, visualisasi dan motivasi dari pelatih.









DAFTAR PUSTAKA
Parnabas, Vincent A. & Yahaya Mahamood. 2012.  Anxiety and Imagery of Green Space among Athletes.  British Journal of Arts and Social Sciences: Malaysia (Diakses online pada 11 Mei 2014 pukul 18.45 WIB)

Moran. A. 1993. Conceptual and methodological issues in the measurement of mental imagery skills in athlete. Journal of Sport Behavior, 16, pp. 156-170. (Diakses online pada 11 Mei 2014 pukul 08.00 WIB)

R.S. Vealey & C.A. Greenleaf, 2001. Seeing is believing: Understand and using imagery in sport. In J.M. William (Ed.), Applied sport psychology: Personal growth to peak performance. Mountain View, CA: Mayfield Publishing Company.. (Diakses online pada 11 Mei 2014 pukul 08.00 WIB)

Sangari, Mandana, Farnoosh Fotrousi & Forouzan Fattahi Masrour. 2012. Relationship Between Mental Skill and Competitive Anxiety in Female National Football Players. World Applied Sciences Journal 20 (8): 1175-1178, 2012: Iran (Diakses online pada 11 Mei 2014 pukul 18.45 WIB)

Woodman, Tim & Lew Hardy. 2003. The relative impact of cognitive anxiety and self-confidence upon sport performance: a meta-analysis. Journal of Sports Sciences, 2003, 21, 443–457: UK (Diakses online pada 11 Mei 2014 pukul 18.45 WIB)

Mark Wilson, Mark, Nickolas C. Smith1 & Paul S. Holmes. 2007. The role of effort in influencing the effect of anxiety on performance: Testing the conflicting predictions of processing efficiency theory and the conscious processing hypothesis. British Journal of Psychology (2007), 98, 411–428: UK (Diakses online pada 11 Mei 2014 pukul 18.45 WIB)


Jumat, 21 Februari 2014

Anxiety (Kecemasan)

                                           

Definisi
vAnxiety As in the earlier section on confidence again it is important to make the trait-state distinction.

§Kecemasan Seperti pada bagian sebelumnya pada keyakinan itu juga penting untuk membuat perbedaan  antara sifat dengan keadaan.

Trait And State Anxeity
Trait anxiety: Merupakan watak yang relatif abadi , yaitu merupakan
dimensi kepribadian yang
mempengaruhi tingginya kecemasan orang dari rangkaian kesatuan untuk melihat berbagai keadaan tidak berbahaya yang mengancam .
State anxiety:
Emosi negatif takut dan ketegangan berpengalaman dalam situasi yang mengancam.

Cognitive And Somatic Anxiety
Kecemasan kognitif ditandai dengan kekhawatiran dan harapan negatif , tentang kinerja, evaluasi diri dan evaluasi oleh orang lain. Sebagai contoh, atlet muda mungkin khawatir bahwa mereka akan bermain buruk di depan orang tua mereka pada hari-hari olahraga sekolah, atau pemain golf profesional mungkin mulai memikirkan berapa ribu yang dikeluarkan  saat pukulannya meleset dari sasaran.
Kecemasan somatik, di sisi lain berkaitan dengan persepsi kita tentang keadaan tubuh kita. Misalnya, ketika kita menyadari memiliki jantung berdebar, tangan berkeringat, kaki gemetar, kupu-kupu di perut dan mulut kering.

Anxiety Measurement
vMetode yang paling banyak digunakan untuk mengukur kecemasan dalam olahraga adalah kuesioner data diri seseorang, yang memiliki telah digunakan untuk mengukur baik sifat dan negara kecemasan. Ukuran yang paling sering digunakan kecemasan sifat adalah Skala Sport Anxiety (SAS). yang paling banyak digunakan ukuran kecemasan keadaan adalah
CSAI-2

Anxiety Direction
vBeberapa peneliti telah mengklaim bahwa kecemasan memiliki arah serta intensitas, mengarah ke gagasan yang positif serta kecemasan negatif. Ada kemungkinan bahwa istilah arah kecemasan adalah sebuah nama yang salah dan arah dari hasil  ukuran skala diluar dugaan.

Drive Theory
vTeori Drive memprediksi bahwa pada setiap keterampilan yang diberikan tingkat, kinerja tergantung pada gairah (atau pengemudi) dengan cara linear sederhana, sehingga
lebih besar gairah yang semakin baik kinerja. Mendorong teori tidak menjelaskan hubungan
antara gairah dan kinerja untuk lebih
kompleks tugas-tugasnya yang khas dalam olahraga.

‘Inverted U’ theory
vDasar pemikiran dari teori ‘U terbalik adalah bahwa sebagai pengemudi (drive) meningkat, demikian juga kinerja, tetapi hanya sampai titik optimum, setelah meningkat dalam hasil pengemudinya menurun maka tingkat kinerja juga turun. Meskipun berdasarkan naiknya, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa prediksi teori tidak selalu dikonfirmasi, dan sebagian besar telah digantikan dengan pendekatan yang lebih kompleks seperti teori bencana.
Thank You!

Kamis, 16 Januari 2014

RENANG



1.1 Prestasi renang Indonesia
Walaupun cabang olahraga renang Indonesia mendapatkan emas pada ajang SEA GAMES lalu, namun Indonesia gagal mengirim atlitnya ke Olimpiade London kemarin.
Richard Sambera menilai kegagalan Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) meloloskan atletnya ke Olimpiade tak lepas dari banyaknya persoalan dalam hal pembinaan atlet, terutama yang berkaitan dengan fasilitas dan program yang dijalankan. (http://www.metrotvnews.com/metronews/news/2012/06/08/94042/Richard-Sambera-Prihatin-Pembinaan-Renang/4_, diakses online pada Jumat, 8 Juni 2012 11:34 WIB)
Menurut pengamat olahraga nasional penyebab menurunnya prestasi renang, wartawan tabloid “BOLA”, Ignatius Sunito dan para pengamat olahraga lainnya mengatakan kalau masalah dana adalah penyebab utamanya. Terbatasnya dana membuat PRSI kesulitan untuk melaksanakan kompetisi renang tingkat nasional seperti dulu lagi, kurangnya rasa nasionalisme pemain, kurangnya manajemen dalam official, kurangnya disiplin. (http://www.jualbeliforum.com/sastra/276676-makalah-tentang-renang.html, diakses online pada 20 Oktober 2012)

2.1 Keadaan kepengurusan PB-PRSI
PB-PRSI adalah induk organisasi olahraga renang di Indonesia. Mulai menurunnya prestasi renang Indonesia, ditengarahi enyababnya dari system kepengurusan PB-PRSI yang tidak maksimal.
Ini ditandai dengan adanya kisruh pada POPNAS yang rencananya akan diselenggarakan di Riau gagal. Itu karena sejumlah daerah melakukan aksi mogok bertanding akibat tuan rumah Riau ngotot menampilkan perenang Pelatnas Prima. (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=218182:popnas-kisruh-renang-batal-tanding-&catid=22:rnasional&Itemid=41, diakses pada minggu 3 Oktober 2012)
Selain itu di Makasar juga ada masalah baru, yakni Ketua Harian Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Sulsel Abdul Muin, mengatakan keinginan agar Musyawarah Olahraga Provinis (Musorprov) KONI Sulsel tidak hanya memilih Ketua namun dan pembentukan pengurus baru, juga sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) KONI. (http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/42455/pengurus-olahraga-ingin-koni-dirombak-total, diakses pada Kamis, 4 Oktober 2012)
Pengurus olahraga Sulawesi Selatan meminta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel lebih transparan dalam hal penggunaan anggaran Pekan Olahraga Nasional (PON). Ketua Harian Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Sulsel Abdul Muin di Makassar, Rabu, mengatakan, dengan adanya keterbukaan akan membuat atlet dan pelatih setiap cabang dapat lebih fokus menghadapi PON 2012.
(http://makassar.antaranews.com/berita/41209/pengurus-olahraga-minta-koni-transparan-penggunaan-anggaran, diakses pada Rabu, 15 Agustus 2012)

3.1 Sarana dan prasarana cabang olahraga renang di Indonesia
Bukan hanya sistem kepengurusan PB-PRSI yang kurang maksimal, namun di Indonesia sarana dan prasana untuk cabang olahraga renang, masih banyak kekurangan. Ini terbukti saat PON di Pekanbaru kemarin yakni: Dinding kolam berlumut, airnya berbuih dan tidak terawat. Ketika Pengurus Provinsi Persatuan Renang Seluruh Indonesia Riau berkunjung. Venue kolam renang tersebut tidak bisa difungsikan pada training center (TC) atlet renang PON Riau karena kondisinya yang tidak layak. (http://www.fokusriau.com/berita-694-gimana-atlet-mau-latihan-kolam-renang-berlumut-dan-berbuih.html, diakses pada Rabu, 25 Juli 2012)
Pada Coaching Clinic (pelatihan) yang dilakukan oleh pelatih renang asal Rusia, Berezutskaya Ala yang biasa di panggil Rezutska di Kota Sidimpuan, dia mengatakan bahwa atlit akan sulit berprestasi bila sarana dan prasarana yang dipergunakan tidak standar. (http://www.metrosiantar.com/2012/pelatih-dari-rusia-latih-atlet-renang-psp/, diakses online pada Selasa, 9 Oktober 2012)

4.1 Sistem pembinaan cabang olahraga renang di Indonesia
Sistem pembinaan di Indonesia juga salah satu alasan kenapa prestasi renang Indonesia belum bisa mencapai prestasi yang maksimal. Karena pembinaan atlit usia dini dinilai sangat penting untuk mendapatkan penerus atlit senior yang sudah lewat masa keemasannya.
Pembinaan cabang olahraga renang di Cilegon, dinilai belum merata. Hal tersebut diketahui  dari pekan olahraga Kota ke IV  Cilegon   mempertandingkan Cabang olahraga renang di Kolam Renang, KCC, Kota Cilegon, selasa  (3/4) yang hanya diikuti oleh beberapa kecamatan saja. (http://www.fesbukbantennews.com/2012/04/pembinaan-cabor-renang-di-cilegon-belum-merata/, diakses pada tanggal 3 April 2012)

Ketua Harian KONI Jawa Timur Dhimam Abror, saat dikonfirmasi RRI hari ini (24/9), menilai ada yang salah dengan pembinaan internal di cabang olahraga renang. “Ada gap antara atlet senior dan yunior yang membuat atlet tampil tidak total,” Jelas Dhimam. Karena atlet andalan yang berlaga di PON Ke-17 2008 lalu masih tampil di PON tahun ini namun sudah tidak sanggup mencapai best time sementara atlet yunior dianggap belum mampu bersaing. (http://rrisby.net/sorotan-cabor-renang.html, diakses pada tanggal 24 September 2012)